Mendengar
kalahnya Jepang dan adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,
Dwinda diangkat menjadi Ketua BKR (badan keamanan rakyat) Distrik
Jembrana dengan Wakilnya Dewa Nyoman Teges. Dengan diangkatnya Dwinda
sebagai Ketua Distrik BKR maka tanggung jawab Dwinda semakin berat,
karena harus membangkitkan semangat juang masyarakat Jembrana. Sebagai
putra asli Jembrana, Dwinda mempunyai semangat tinggi untuk menyebarkan
berita Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kepada masyarakat Jembrana dengan
harapan semangat juang masyarakat jembrana tumbuh.
Selain
menjadi Ketua Distrik BKR Dwinda juga diangkat menjadi Ketua BPRI
(barisan pemberontak republic indonesia) Distrik Jembrana dengan
Wakilnya Ide Bagus Gede Doster. Ditanggal 13 Desember diadakan serangan
umum terhadap Tangsi Jepang (sekarang makam pahlawan jembrana) di Negara
pada dini hari dengan tujuan merebut senjata Jepang. Namun serangan ini
gagal karena kuatnya pertahanan pasukan Jepang.
Ke
esokan harinya pasukan Jepang mencari Dwinda dikediamannya, namun
pasukan Jepang tidak menemukan Dwinda dikarenakan Dwinda sudah pergi
bergrilya kehutan. Datangnya NICA (nederlands indies civil
administration) di Jembrana Dwinda dan teman-temannya pergi ke pulau
Jawa untuk meminta bantuan kepada pasukan induk di Jokjakarta, namun
Dwinda hanya bertemu dengan Kapten Markadi di Banyuangi (markas ALRI di
Sukowidi). Ke esokan harinya, tepatnya tanggal 04 April 1946 pasukan
Kapten Markadi dan Dwinda besama-sama menuju Bali. Ditengah selat Bali
rombongan pasukan bertemu dengan pasukan Gajah Merah NICA, kemudian
terjadi pertempuran diselat Bali tanggal 04 Aprill 1946 yang merupakan
pertempuran laut pertama dalam sejarah angkatan laut Indonesia.
Dalam
pertempuran tersebut rombongan pasukan yang dipimpin Kapten Markadi
berhasil menenggelamkan pasukan Gajah Merah NICA dan rombongan tidak
langsung mendarat di Bali dikarenakan Kapten Markadi takut pasukan
belanda mengirimkan bantuan angkatan udaranya. Tanggal 05 April 1946
barulah rombongan pasukan mendarat terpisah dengan selamat di pantai
Kelatakan, Candi Kusuma, dan Pebuahan. Rombongan pasukan bergerak menuju
Peh (desa manis tutu) sebagai markas pertama yang kemudian menyusun
kekuatan untuk menyerang pasukan Gajah Merah NICA di Negara pada tanggal
15 April 1946.
Pada
malam harinya pasukan bergerak kearah timur menuju Tangsi NICA (bank
BPD sekarang), namun sebelum sampai di Tangsi tersebut beduk subuh sudah
terdengar. Mengetahui hal ini Kapten Markadi memanggil semua perwiranya
termasuk Lettu Dwinda untuk menanyakan serangan dilanjutkan atau
dibatalkan. Akhirnya rencana serangan tersebut dibatalkan dengan alasan
senjata dan pasukan yang kurang untuk penyerangan siang hari. Setelah
rencana serangan dibatalkan pasukan kembali ke markas Peh dan
merencanakan kepindahan markas ke daerah Gelar Sari yang sekarang
dikenal dengan nama Lembah Merdeka. Dimarkas kedua ini pasukan menyusun
kekuatan untuk melaksanakan serangan selanjutnya.
Namun
keadaan markas di Lembah Merdeka diketahui oleh mata-mata NICA, para
pejuang hanya berasil menangkap dua orang mata-mata NICA. Pada tanggal
25 April 1946 pasukan NICA menyerang pertahanan pasukan pejuang di
Lembah Merdeka, namun para pejuang berhasil menahan serangan tersebut.
26 April 1946 pasukan NICA kembali menyerang dengan senjata bantuan
mortir dan pesawat sehingga pasukan pejuang dipukul mundur menuju
pegunungan-pegunungan daerah Lembah Merdeka. Sebelum Dwinda menyusul
Kapten Markadi yang berangkat menuju tabanan untuk bergabung dengan
pasukan induk I Gst Ngurah Rai, Dwinda menyempatkan diri pulang kerumah
untuk berpamitan kepada orang tuanya. Sesampai di rumah, Dwinda
ditawarkan untuk menikah. Namun Dwinda menolak penawaran tersebut dengan
alasan Dwinda tidak akan menikah sebelum Bangsa ini merdeka.
27
April 1946 Dwinda bersama beberapa pejuang melanjutkan perjalanan untuk
menyusul Kapten Markadi ke Tabanan. Sesampai diperbatasan antara
Jembrana dan Tabanan Dwinda bertanya kepada para pejuang yang ikut
dengannya apakah ikut melanjutkan perjuangan kedaerah Tabanan atau
kembali berjuang di daerah masing-masing. Akhirnya hanya Dwinda seorang
diri yang melanjutkan perjuangan ke Tabanan untuk menyusul pasukan induk
I Gusti Ngurah Rai. Didaerah Penebel Dwinda berhasil bergabung dengan
pasukan induk I Gusti Ngurah Rai serta bertemu juga dengan I Gusti Bagus
Sugianyar (kerabat Dwinda). Dwinda juga ikut bertempur didaerah Tanah
Aron pada bulan Juni 1946.
Gugurnya Lettu Dwinda
Setelah
pertempuran di Tanah Aron Dwinda bersama pasukan Ciung Wanara menuju
bali selatan tepatnya didaerah Tabanan untuk meyerang musuh. Pada
tanggal 17 November 1946 Dwinda ditugaskan memimpin pasukan untuk
menyerang Pos Polisi NICA di tabanan di bantu seorang pasukan Polisi
NICA yang memihak pejuang, bernama Bung Wagimin setelah serangan
tersebut berhasil pasukan mengadakan pesta dengan mengundang Arja,
tetapi di dalam penari Arja tersebut ada seorang mata-mata NICA sehingga
pada tanggal 19 November 1946 markas pidah ke Marga. Secara diam-diam
ternyata pasukan NICA mengetahui kepindahan markas pejuang ke daerah
marga. Dengan di ketahuinya markas pejuang di Marga, 20 November 1946
belanda menyerang dari semua arah dan terjadilah pertempuran Margarana.
Ketika pertempuran terjadi senjata mortar milik pejuang macet tidk bisa
di gunakan. Ketika di injak mortar tersebut meledak dengan sendirinya
sehingga Ahli senjata dan beberapa pejuang gugur. Dalam pertempuran
tersebut kedua belah pihak kehabisan amunisi sehingga terjadilah perang
sangkur.
Ditengah-tengah
perang sangkur datanglah bantuan pesawat Belanda yang dikirim dari
Jembrana. Setelah pesawat itu membantu penyerangan belanda hampir dari
keseluruhan pejuang gugur. Pada waktu itu keadaan tubuh Lettu Dwinda
sangat parah akibat serangan bantuan pesawat belanda, dengan kondisi
seperti itu Lettu Dwinda berusaha mencari kerabatnya Bagus Sugianyar
yang juga ikut dalam pertempuran tersebut dengan harapan kalau mereka
gugur jenazah mereka berdekatan agar jenazah lebih gampang dikenali.
Tanggal
20 November 1946 Lettu Dwinda akhirnya Gugur disamping kerabatnya Bagus
Sugianyar dalam Pertempuran Margarana. Jenazah Lettu Dwinda dimakamkan
di daerah Baha Tabanan, pada tanggal 22 November 1946 barulah keluarga
Lettu Dwinda menerima kabar bahwa Lettu Dwinda telah gugur. Dua Tahun
setelah gugurnya Lettu Dwinda, jenazah Lettu Dwinda barulah dipindahkan
ke makam pahlawan kusuma mandala Jembrana.






0 komentar:
Posting Komentar