This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Minggu, 09 Maret 2014

Tes 5

Mendengar kalahnya Jepang dan adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Dwinda diangkat menjadi Ketua BKR (badan keamanan rakyat) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Dewa Nyoman Teges. Dengan diangkatnya Dwinda sebagai Ketua Distrik BKR maka tanggung jawab Dwinda semakin berat, karena harus membangkitkan semangat juang masyarakat Jembrana. Sebagai putra asli Jembrana, Dwinda mempunyai semangat tinggi untuk menyebarkan berita Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kepada masyarakat Jembrana dengan harapan semangat juang masyarakat jembrana tumbuh. 

 Selain menjadi Ketua Distrik BKR Dwinda juga diangkat menjadi Ketua BPRI (barisan pemberontak republic indonesia) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Ide Bagus Gede Doster. Ditanggal 13 Desember diadakan serangan umum terhadap Tangsi Jepang (sekarang makam pahlawan jembrana) di Negara pada dini hari dengan tujuan merebut senjata Jepang. Namun serangan ini gagal karena kuatnya pertahanan pasukan Jepang.

 Ke esokan harinya pasukan Jepang mencari Dwinda dikediamannya, namun pasukan Jepang tidak menemukan Dwinda dikarenakan Dwinda sudah pergi bergrilya kehutan. Datangnya NICA (nederlands indies civil administration) di Jembrana Dwinda dan teman-temannya pergi ke pulau Jawa untuk meminta bantuan kepada pasukan induk di Jokjakarta, namun Dwinda hanya bertemu dengan Kapten Markadi di Banyuangi (markas ALRI di Sukowidi). Ke esokan harinya, tepatnya tanggal 04 April 1946 pasukan Kapten Markadi dan Dwinda besama-sama menuju Bali. Ditengah selat Bali rombongan pasukan bertemu dengan pasukan Gajah Merah NICA, kemudian terjadi pertempuran diselat Bali tanggal 04 Aprill 1946 yang merupakan pertempuran laut pertama dalam sejarah angkatan laut Indonesia. 

Dalam pertempuran tersebut rombongan pasukan yang dipimpin Kapten Markadi berhasil menenggelamkan pasukan Gajah Merah NICA dan rombongan tidak langsung mendarat di Bali dikarenakan Kapten Markadi takut pasukan belanda mengirimkan bantuan angkatan udaranya. Tanggal 05 April 1946 barulah rombongan pasukan mendarat terpisah dengan selamat di pantai Kelatakan, Candi Kusuma, dan Pebuahan. Rombongan pasukan bergerak menuju Peh (desa manis tutu) sebagai markas pertama yang kemudian menyusun kekuatan untuk menyerang pasukan Gajah Merah NICA di Negara pada tanggal 15 April 1946. 

Pada malam harinya pasukan bergerak kearah timur menuju Tangsi NICA (bank BPD sekarang), namun sebelum sampai di Tangsi tersebut beduk subuh sudah terdengar. Mengetahui hal ini Kapten Markadi memanggil semua perwiranya termasuk Lettu Dwinda untuk menanyakan serangan dilanjutkan atau dibatalkan. Akhirnya rencana serangan tersebut dibatalkan dengan alasan senjata dan pasukan yang kurang untuk penyerangan siang hari. Setelah rencana serangan dibatalkan pasukan kembali ke markas Peh dan merencanakan kepindahan markas ke daerah Gelar Sari yang sekarang dikenal dengan nama Lembah Merdeka. Dimarkas kedua ini pasukan menyusun kekuatan untuk melaksanakan serangan selanjutnya.

 Namun keadaan markas di Lembah Merdeka diketahui oleh mata-mata NICA, para pejuang hanya berasil menangkap dua orang mata-mata NICA. Pada tanggal 25 April 1946 pasukan NICA menyerang pertahanan pasukan pejuang di Lembah Merdeka, namun para pejuang berhasil menahan serangan tersebut. 26 April 1946 pasukan NICA kembali menyerang dengan senjata bantuan mortir dan pesawat sehingga pasukan pejuang dipukul mundur menuju pegunungan-pegunungan daerah Lembah Merdeka. Sebelum Dwinda menyusul Kapten Markadi yang berangkat menuju tabanan untuk bergabung dengan pasukan induk I Gst Ngurah Rai, Dwinda menyempatkan diri pulang kerumah untuk berpamitan kepada orang tuanya. Sesampai di rumah, Dwinda ditawarkan untuk menikah. Namun Dwinda menolak penawaran tersebut dengan alasan Dwinda tidak akan menikah sebelum Bangsa ini merdeka. 

27 April 1946 Dwinda bersama beberapa pejuang melanjutkan perjalanan untuk menyusul Kapten Markadi ke Tabanan. Sesampai diperbatasan antara Jembrana dan Tabanan Dwinda bertanya kepada para pejuang yang ikut dengannya apakah ikut melanjutkan perjuangan kedaerah Tabanan atau kembali berjuang di daerah masing-masing. Akhirnya hanya Dwinda seorang diri yang melanjutkan perjuangan ke Tabanan untuk menyusul pasukan induk I Gusti Ngurah Rai. Didaerah Penebel Dwinda berhasil bergabung dengan pasukan induk I Gusti Ngurah Rai serta bertemu juga dengan I Gusti Bagus Sugianyar (kerabat Dwinda). Dwinda juga ikut bertempur didaerah Tanah Aron pada bulan Juni 1946.

Gugurnya Lettu Dwinda
Setelah pertempuran di Tanah Aron Dwinda bersama pasukan Ciung Wanara menuju bali selatan tepatnya didaerah Tabanan untuk meyerang musuh. Pada tanggal 17 November 1946 Dwinda ditugaskan memimpin pasukan untuk menyerang Pos Polisi NICA di tabanan di bantu seorang pasukan Polisi NICA yang memihak pejuang, bernama Bung Wagimin setelah serangan tersebut berhasil pasukan mengadakan pesta dengan mengundang Arja, tetapi di dalam penari Arja tersebut ada seorang mata-mata NICA sehingga pada tanggal 19 November 1946 markas pidah ke Marga. Secara diam-diam ternyata pasukan NICA mengetahui kepindahan markas pejuang ke daerah marga. Dengan di ketahuinya markas pejuang di Marga, 20 November 1946 belanda menyerang dari semua arah dan terjadilah pertempuran Margarana. Ketika pertempuran terjadi senjata mortar milik pejuang macet tidk bisa di gunakan. Ketika di injak mortar tersebut meledak dengan sendirinya sehingga Ahli senjata dan beberapa pejuang gugur. Dalam pertempuran tersebut kedua belah pihak kehabisan amunisi sehingga terjadilah perang sangkur.

 Ditengah-tengah perang sangkur datanglah bantuan pesawat Belanda yang dikirim dari Jembrana. Setelah pesawat itu membantu penyerangan belanda hampir dari keseluruhan pejuang gugur. Pada waktu itu keadaan tubuh Lettu Dwinda sangat parah akibat serangan bantuan pesawat belanda, dengan kondisi seperti itu Lettu Dwinda berusaha mencari kerabatnya Bagus Sugianyar yang juga ikut dalam pertempuran tersebut dengan harapan kalau mereka gugur jenazah mereka berdekatan agar jenazah lebih gampang dikenali. 

Tanggal 20 November 1946 Lettu Dwinda akhirnya Gugur disamping kerabatnya Bagus Sugianyar dalam Pertempuran Margarana. Jenazah Lettu Dwinda dimakamkan di daerah Baha Tabanan, pada tanggal 22 November 1946 barulah keluarga Lettu Dwinda menerima kabar bahwa Lettu Dwinda telah gugur. Dua Tahun setelah gugurnya Lettu Dwinda, jenazah Lettu Dwinda barulah dipindahkan ke makam pahlawan kusuma mandala Jembrana.

tes 4

Mendengar kalahnya Jepang dan adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Dwinda diangkat menjadi Ketua BKR (badan keamanan rakyat) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Dewa Nyoman Teges. Dengan diangkatnya Dwinda sebagai Ketua Distrik BKR maka tanggung jawab Dwinda semakin berat, karena harus membangkitkan semangat juang masyarakat Jembrana. Sebagai putra asli Jembrana, Dwinda mempunyai semangat tinggi untuk menyebarkan berita Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kepada masyarakat Jembrana dengan harapan semangat juang masyarakat jembrana tumbuh. 

 Selain menjadi Ketua Distrik BKR Dwinda juga diangkat menjadi Ketua BPRI (barisan pemberontak republic indonesia) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Ide Bagus Gede Doster. Ditanggal 13 Desember diadakan serangan umum terhadap Tangsi Jepang (sekarang makam pahlawan jembrana) di Negara pada dini hari dengan tujuan merebut senjata Jepang. Namun serangan ini gagal karena kuatnya pertahanan pasukan Jepang.

 Ke esokan harinya pasukan Jepang mencari Dwinda dikediamannya, namun pasukan Jepang tidak menemukan Dwinda dikarenakan Dwinda sudah pergi bergrilya kehutan. Datangnya NICA (nederlands indies civil administration) di Jembrana Dwinda dan teman-temannya pergi ke pulau Jawa untuk meminta bantuan kepada pasukan induk di Jokjakarta, namun Dwinda hanya bertemu dengan Kapten Markadi di Banyuangi (markas ALRI di Sukowidi). Ke esokan harinya, tepatnya tanggal 04 April 1946 pasukan Kapten Markadi dan Dwinda besama-sama menuju Bali. Ditengah selat Bali rombongan pasukan bertemu dengan pasukan Gajah Merah NICA, kemudian terjadi pertempuran diselat Bali tanggal 04 Aprill 1946 yang merupakan pertempuran laut pertama dalam sejarah angkatan laut Indonesia. 

Dalam pertempuran tersebut rombongan pasukan yang dipimpin Kapten Markadi berhasil menenggelamkan pasukan Gajah Merah NICA dan rombongan tidak langsung mendarat di Bali dikarenakan Kapten Markadi takut pasukan belanda mengirimkan bantuan angkatan udaranya. Tanggal 05 April 1946 barulah rombongan pasukan mendarat terpisah dengan selamat di pantai Kelatakan, Candi Kusuma, dan Pebuahan. Rombongan pasukan bergerak menuju Peh (desa manis tutu) sebagai markas pertama yang kemudian menyusun kekuatan untuk menyerang pasukan Gajah Merah NICA di Negara pada tanggal 15 April 1946. 

Pada malam harinya pasukan bergerak kearah timur menuju Tangsi NICA (bank BPD sekarang), namun sebelum sampai di Tangsi tersebut beduk subuh sudah terdengar. Mengetahui hal ini Kapten Markadi memanggil semua perwiranya termasuk Lettu Dwinda untuk menanyakan serangan dilanjutkan atau dibatalkan. Akhirnya rencana serangan tersebut dibatalkan dengan alasan senjata dan pasukan yang kurang untuk penyerangan siang hari. Setelah rencana serangan dibatalkan pasukan kembali ke markas Peh dan merencanakan kepindahan markas ke daerah Gelar Sari yang sekarang dikenal dengan nama Lembah Merdeka. Dimarkas kedua ini pasukan menyusun kekuatan untuk melaksanakan serangan selanjutnya.

 Namun keadaan markas di Lembah Merdeka diketahui oleh mata-mata NICA, para pejuang hanya berasil menangkap dua orang mata-mata NICA. Pada tanggal 25 April 1946 pasukan NICA menyerang pertahanan pasukan pejuang di Lembah Merdeka, namun para pejuang berhasil menahan serangan tersebut. 26 April 1946 pasukan NICA kembali menyerang dengan senjata bantuan mortir dan pesawat sehingga pasukan pejuang dipukul mundur menuju pegunungan-pegunungan daerah Lembah Merdeka. Sebelum Dwinda menyusul Kapten Markadi yang berangkat menuju tabanan untuk bergabung dengan pasukan induk I Gst Ngurah Rai, Dwinda menyempatkan diri pulang kerumah untuk berpamitan kepada orang tuanya. Sesampai di rumah, Dwinda ditawarkan untuk menikah. Namun Dwinda menolak penawaran tersebut dengan alasan Dwinda tidak akan menikah sebelum Bangsa ini merdeka. 

27 April 1946 Dwinda bersama beberapa pejuang melanjutkan perjalanan untuk menyusul Kapten Markadi ke Tabanan. Sesampai diperbatasan antara Jembrana dan Tabanan Dwinda bertanya kepada para pejuang yang ikut dengannya apakah ikut melanjutkan perjuangan kedaerah Tabanan atau kembali berjuang di daerah masing-masing. Akhirnya hanya Dwinda seorang diri yang melanjutkan perjuangan ke Tabanan untuk menyusul pasukan induk I Gusti Ngurah Rai. Didaerah Penebel Dwinda berhasil bergabung dengan pasukan induk I Gusti Ngurah Rai serta bertemu juga dengan I Gusti Bagus Sugianyar (kerabat Dwinda). Dwinda juga ikut bertempur didaerah Tanah Aron pada bulan Juni 1946.

Gugurnya Lettu Dwinda
Setelah pertempuran di Tanah Aron Dwinda bersama pasukan Ciung Wanara menuju bali selatan tepatnya didaerah Tabanan untuk meyerang musuh. Pada tanggal 17 November 1946 Dwinda ditugaskan memimpin pasukan untuk menyerang Pos Polisi NICA di tabanan di bantu seorang pasukan Polisi NICA yang memihak pejuang, bernama Bung Wagimin setelah serangan tersebut berhasil pasukan mengadakan pesta dengan mengundang Arja, tetapi di dalam penari Arja tersebut ada seorang mata-mata NICA sehingga pada tanggal 19 November 1946 markas pidah ke Marga. Secara diam-diam ternyata pasukan NICA mengetahui kepindahan markas pejuang ke daerah marga. Dengan di ketahuinya markas pejuang di Marga, 20 November 1946 belanda menyerang dari semua arah dan terjadilah pertempuran Margarana. Ketika pertempuran terjadi senjata mortar milik pejuang macet tidk bisa di gunakan. Ketika di injak mortar tersebut meledak dengan sendirinya sehingga Ahli senjata dan beberapa pejuang gugur. Dalam pertempuran tersebut kedua belah pihak kehabisan amunisi sehingga terjadilah perang sangkur.

 Ditengah-tengah perang sangkur datanglah bantuan pesawat Belanda yang dikirim dari Jembrana. Setelah pesawat itu membantu penyerangan belanda hampir dari keseluruhan pejuang gugur. Pada waktu itu keadaan tubuh Lettu Dwinda sangat parah akibat serangan bantuan pesawat belanda, dengan kondisi seperti itu Lettu Dwinda berusaha mencari kerabatnya Bagus Sugianyar yang juga ikut dalam pertempuran tersebut dengan harapan kalau mereka gugur jenazah mereka berdekatan agar jenazah lebih gampang dikenali. 

Tanggal 20 November 1946 Lettu Dwinda akhirnya Gugur disamping kerabatnya Bagus Sugianyar dalam Pertempuran Margarana. Jenazah Lettu Dwinda dimakamkan di daerah Baha Tabanan, pada tanggal 22 November 1946 barulah keluarga Lettu Dwinda menerima kabar bahwa Lettu Dwinda telah gugur. Dua Tahun setelah gugurnya Lettu Dwinda, jenazah Lettu Dwinda barulah dipindahkan ke makam pahlawan kusuma mandala Jembrana.

Tes 3

Mendengar kalahnya Jepang dan adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Dwinda diangkat menjadi Ketua BKR (badan keamanan rakyat) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Dewa Nyoman Teges. Dengan diangkatnya Dwinda sebagai Ketua Distrik BKR maka tanggung jawab Dwinda semakin berat, karena harus membangkitkan semangat juang masyarakat Jembrana. Sebagai putra asli Jembrana, Dwinda mempunyai semangat tinggi untuk menyebarkan berita Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kepada masyarakat Jembrana dengan harapan semangat juang masyarakat jembrana tumbuh. 

 Selain menjadi Ketua Distrik BKR Dwinda juga diangkat menjadi Ketua BPRI (barisan pemberontak republic indonesia) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Ide Bagus Gede Doster. Ditanggal 13 Desember diadakan serangan umum terhadap Tangsi Jepang (sekarang makam pahlawan jembrana) di Negara pada dini hari dengan tujuan merebut senjata Jepang. Namun serangan ini gagal karena kuatnya pertahanan pasukan Jepang.

 Ke esokan harinya pasukan Jepang mencari Dwinda dikediamannya, namun pasukan Jepang tidak menemukan Dwinda dikarenakan Dwinda sudah pergi bergrilya kehutan. Datangnya NICA (nederlands indies civil administration) di Jembrana Dwinda dan teman-temannya pergi ke pulau Jawa untuk meminta bantuan kepada pasukan induk di Jokjakarta, namun Dwinda hanya bertemu dengan Kapten Markadi di Banyuangi (markas ALRI di Sukowidi). Ke esokan harinya, tepatnya tanggal 04 April 1946 pasukan Kapten Markadi dan Dwinda besama-sama menuju Bali. Ditengah selat Bali rombongan pasukan bertemu dengan pasukan Gajah Merah NICA, kemudian terjadi pertempuran diselat Bali tanggal 04 Aprill 1946 yang merupakan pertempuran laut pertama dalam sejarah angkatan laut Indonesia. 

Dalam pertempuran tersebut rombongan pasukan yang dipimpin Kapten Markadi berhasil menenggelamkan pasukan Gajah Merah NICA dan rombongan tidak langsung mendarat di Bali dikarenakan Kapten Markadi takut pasukan belanda mengirimkan bantuan angkatan udaranya. Tanggal 05 April 1946 barulah rombongan pasukan mendarat terpisah dengan selamat di pantai Kelatakan, Candi Kusuma, dan Pebuahan. Rombongan pasukan bergerak menuju Peh (desa manis tutu) sebagai markas pertama yang kemudian menyusun kekuatan untuk menyerang pasukan Gajah Merah NICA di Negara pada tanggal 15 April 1946. 

Pada malam harinya pasukan bergerak kearah timur menuju Tangsi NICA (bank BPD sekarang), namun sebelum sampai di Tangsi tersebut beduk subuh sudah terdengar. Mengetahui hal ini Kapten Markadi memanggil semua perwiranya termasuk Lettu Dwinda untuk menanyakan serangan dilanjutkan atau dibatalkan. Akhirnya rencana serangan tersebut dibatalkan dengan alasan senjata dan pasukan yang kurang untuk penyerangan siang hari. Setelah rencana serangan dibatalkan pasukan kembali ke markas Peh dan merencanakan kepindahan markas ke daerah Gelar Sari yang sekarang dikenal dengan nama Lembah Merdeka. Dimarkas kedua ini pasukan menyusun kekuatan untuk melaksanakan serangan selanjutnya.

 Namun keadaan markas di Lembah Merdeka diketahui oleh mata-mata NICA, para pejuang hanya berasil menangkap dua orang mata-mata NICA. Pada tanggal 25 April 1946 pasukan NICA menyerang pertahanan pasukan pejuang di Lembah Merdeka, namun para pejuang berhasil menahan serangan tersebut. 26 April 1946 pasukan NICA kembali menyerang dengan senjata bantuan mortir dan pesawat sehingga pasukan pejuang dipukul mundur menuju pegunungan-pegunungan daerah Lembah Merdeka. Sebelum Dwinda menyusul Kapten Markadi yang berangkat menuju tabanan untuk bergabung dengan pasukan induk I Gst Ngurah Rai, Dwinda menyempatkan diri pulang kerumah untuk berpamitan kepada orang tuanya. Sesampai di rumah, Dwinda ditawarkan untuk menikah. Namun Dwinda menolak penawaran tersebut dengan alasan Dwinda tidak akan menikah sebelum Bangsa ini merdeka. 

27 April 1946 Dwinda bersama beberapa pejuang melanjutkan perjalanan untuk menyusul Kapten Markadi ke Tabanan. Sesampai diperbatasan antara Jembrana dan Tabanan Dwinda bertanya kepada para pejuang yang ikut dengannya apakah ikut melanjutkan perjuangan kedaerah Tabanan atau kembali berjuang di daerah masing-masing. Akhirnya hanya Dwinda seorang diri yang melanjutkan perjuangan ke Tabanan untuk menyusul pasukan induk I Gusti Ngurah Rai. Didaerah Penebel Dwinda berhasil bergabung dengan pasukan induk I Gusti Ngurah Rai serta bertemu juga dengan I Gusti Bagus Sugianyar (kerabat Dwinda). Dwinda juga ikut bertempur didaerah Tanah Aron pada bulan Juni 1946.

Gugurnya Lettu Dwinda
Setelah pertempuran di Tanah Aron Dwinda bersama pasukan Ciung Wanara menuju bali selatan tepatnya didaerah Tabanan untuk meyerang musuh. Pada tanggal 17 November 1946 Dwinda ditugaskan memimpin pasukan untuk menyerang Pos Polisi NICA di tabanan di bantu seorang pasukan Polisi NICA yang memihak pejuang, bernama Bung Wagimin setelah serangan tersebut berhasil pasukan mengadakan pesta dengan mengundang Arja, tetapi di dalam penari Arja tersebut ada seorang mata-mata NICA sehingga pada tanggal 19 November 1946 markas pidah ke Marga. Secara diam-diam ternyata pasukan NICA mengetahui kepindahan markas pejuang ke daerah marga. Dengan di ketahuinya markas pejuang di Marga, 20 November 1946 belanda menyerang dari semua arah dan terjadilah pertempuran Margarana. Ketika pertempuran terjadi senjata mortar milik pejuang macet tidk bisa di gunakan. Ketika di injak mortar tersebut meledak dengan sendirinya sehingga Ahli senjata dan beberapa pejuang gugur. Dalam pertempuran tersebut kedua belah pihak kehabisan amunisi sehingga terjadilah perang sangkur.

 Ditengah-tengah perang sangkur datanglah bantuan pesawat Belanda yang dikirim dari Jembrana. Setelah pesawat itu membantu penyerangan belanda hampir dari keseluruhan pejuang gugur. Pada waktu itu keadaan tubuh Lettu Dwinda sangat parah akibat serangan bantuan pesawat belanda, dengan kondisi seperti itu Lettu Dwinda berusaha mencari kerabatnya Bagus Sugianyar yang juga ikut dalam pertempuran tersebut dengan harapan kalau mereka gugur jenazah mereka berdekatan agar jenazah lebih gampang dikenali. 

Tanggal 20 November 1946 Lettu Dwinda akhirnya Gugur disamping kerabatnya Bagus Sugianyar dalam Pertempuran Margarana. Jenazah Lettu Dwinda dimakamkan di daerah Baha Tabanan, pada tanggal 22 November 1946 barulah keluarga Lettu Dwinda menerima kabar bahwa Lettu Dwinda telah gugur. Dua Tahun setelah gugurnya Lettu Dwinda, jenazah Lettu Dwinda barulah dipindahkan ke makam pahlawan kusuma mandala Jembrana.

Tes 2

Mendengar kalahnya Jepang dan adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Dwinda diangkat menjadi Ketua BKR (badan keamanan rakyat) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Dewa Nyoman Teges. Dengan diangkatnya Dwinda sebagai Ketua Distrik BKR maka tanggung jawab Dwinda semakin berat, karena harus membangkitkan semangat juang masyarakat Jembrana. Sebagai putra asli Jembrana, Dwinda mempunyai semangat tinggi untuk menyebarkan berita Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kepada masyarakat Jembrana dengan harapan semangat juang masyarakat jembrana tumbuh. 

 Selain menjadi Ketua Distrik BKR Dwinda juga diangkat menjadi Ketua BPRI (barisan pemberontak republic indonesia) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Ide Bagus Gede Doster. Ditanggal 13 Desember diadakan serangan umum terhadap Tangsi Jepang (sekarang makam pahlawan jembrana) di Negara pada dini hari dengan tujuan merebut senjata Jepang. Namun serangan ini gagal karena kuatnya pertahanan pasukan Jepang.

 Ke esokan harinya pasukan Jepang mencari Dwinda dikediamannya, namun pasukan Jepang tidak menemukan Dwinda dikarenakan Dwinda sudah pergi bergrilya kehutan. Datangnya NICA (nederlands indies civil administration) di Jembrana Dwinda dan teman-temannya pergi ke pulau Jawa untuk meminta bantuan kepada pasukan induk di Jokjakarta, namun Dwinda hanya bertemu dengan Kapten Markadi di Banyuangi (markas ALRI di Sukowidi). Ke esokan harinya, tepatnya tanggal 04 April 1946 pasukan Kapten Markadi dan Dwinda besama-sama menuju Bali. Ditengah selat Bali rombongan pasukan bertemu dengan pasukan Gajah Merah NICA, kemudian terjadi pertempuran diselat Bali tanggal 04 Aprill 1946 yang merupakan pertempuran laut pertama dalam sejarah angkatan laut Indonesia. 

Dalam pertempuran tersebut rombongan pasukan yang dipimpin Kapten Markadi berhasil menenggelamkan pasukan Gajah Merah NICA dan rombongan tidak langsung mendarat di Bali dikarenakan Kapten Markadi takut pasukan belanda mengirimkan bantuan angkatan udaranya. Tanggal 05 April 1946 barulah rombongan pasukan mendarat terpisah dengan selamat di pantai Kelatakan, Candi Kusuma, dan Pebuahan. Rombongan pasukan bergerak menuju Peh (desa manis tutu) sebagai markas pertama yang kemudian menyusun kekuatan untuk menyerang pasukan Gajah Merah NICA di Negara pada tanggal 15 April 1946. 

Pada malam harinya pasukan bergerak kearah timur menuju Tangsi NICA (bank BPD sekarang), namun sebelum sampai di Tangsi tersebut beduk subuh sudah terdengar. Mengetahui hal ini Kapten Markadi memanggil semua perwiranya termasuk Lettu Dwinda untuk menanyakan serangan dilanjutkan atau dibatalkan. Akhirnya rencana serangan tersebut dibatalkan dengan alasan senjata dan pasukan yang kurang untuk penyerangan siang hari. Setelah rencana serangan dibatalkan pasukan kembali ke markas Peh dan merencanakan kepindahan markas ke daerah Gelar Sari yang sekarang dikenal dengan nama Lembah Merdeka. Dimarkas kedua ini pasukan menyusun kekuatan untuk melaksanakan serangan selanjutnya.

 Namun keadaan markas di Lembah Merdeka diketahui oleh mata-mata NICA, para pejuang hanya berasil menangkap dua orang mata-mata NICA. Pada tanggal 25 April 1946 pasukan NICA menyerang pertahanan pasukan pejuang di Lembah Merdeka, namun para pejuang berhasil menahan serangan tersebut. 26 April 1946 pasukan NICA kembali menyerang dengan senjata bantuan mortir dan pesawat sehingga pasukan pejuang dipukul mundur menuju pegunungan-pegunungan daerah Lembah Merdeka. Sebelum Dwinda menyusul Kapten Markadi yang berangkat menuju tabanan untuk bergabung dengan pasukan induk I Gst Ngurah Rai, Dwinda menyempatkan diri pulang kerumah untuk berpamitan kepada orang tuanya. Sesampai di rumah, Dwinda ditawarkan untuk menikah. Namun Dwinda menolak penawaran tersebut dengan alasan Dwinda tidak akan menikah sebelum Bangsa ini merdeka. 

27 April 1946 Dwinda bersama beberapa pejuang melanjutkan perjalanan untuk menyusul Kapten Markadi ke Tabanan. Sesampai diperbatasan antara Jembrana dan Tabanan Dwinda bertanya kepada para pejuang yang ikut dengannya apakah ikut melanjutkan perjuangan kedaerah Tabanan atau kembali berjuang di daerah masing-masing. Akhirnya hanya Dwinda seorang diri yang melanjutkan perjuangan ke Tabanan untuk menyusul pasukan induk I Gusti Ngurah Rai. Didaerah Penebel Dwinda berhasil bergabung dengan pasukan induk I Gusti Ngurah Rai serta bertemu juga dengan I Gusti Bagus Sugianyar (kerabat Dwinda). Dwinda juga ikut bertempur didaerah Tanah Aron pada bulan Juni 1946.

Gugurnya Lettu Dwinda
Setelah pertempuran di Tanah Aron Dwinda bersama pasukan Ciung Wanara menuju bali selatan tepatnya didaerah Tabanan untuk meyerang musuh. Pada tanggal 17 November 1946 Dwinda ditugaskan memimpin pasukan untuk menyerang Pos Polisi NICA di tabanan di bantu seorang pasukan Polisi NICA yang memihak pejuang, bernama Bung Wagimin setelah serangan tersebut berhasil pasukan mengadakan pesta dengan mengundang Arja, tetapi di dalam penari Arja tersebut ada seorang mata-mata NICA sehingga pada tanggal 19 November 1946 markas pidah ke Marga. Secara diam-diam ternyata pasukan NICA mengetahui kepindahan markas pejuang ke daerah marga. Dengan di ketahuinya markas pejuang di Marga, 20 November 1946 belanda menyerang dari semua arah dan terjadilah pertempuran Margarana. Ketika pertempuran terjadi senjata mortar milik pejuang macet tidk bisa di gunakan. Ketika di injak mortar tersebut meledak dengan sendirinya sehingga Ahli senjata dan beberapa pejuang gugur. Dalam pertempuran tersebut kedua belah pihak kehabisan amunisi sehingga terjadilah perang sangkur.

 Ditengah-tengah perang sangkur datanglah bantuan pesawat Belanda yang dikirim dari Jembrana. Setelah pesawat itu membantu penyerangan belanda hampir dari keseluruhan pejuang gugur. Pada waktu itu keadaan tubuh Lettu Dwinda sangat parah akibat serangan bantuan pesawat belanda, dengan kondisi seperti itu Lettu Dwinda berusaha mencari kerabatnya Bagus Sugianyar yang juga ikut dalam pertempuran tersebut dengan harapan kalau mereka gugur jenazah mereka berdekatan agar jenazah lebih gampang dikenali. 

Tanggal 20 November 1946 Lettu Dwinda akhirnya Gugur disamping kerabatnya Bagus Sugianyar dalam Pertempuran Margarana. Jenazah Lettu Dwinda dimakamkan di daerah Baha Tabanan, pada tanggal 22 November 1946 barulah keluarga Lettu Dwinda menerima kabar bahwa Lettu Dwinda telah gugur. Dua Tahun setelah gugurnya Lettu Dwinda, jenazah Lettu Dwinda barulah dipindahkan ke makam pahlawan kusuma mandala Jembrana.

Tes 1

Mendengar kalahnya Jepang dan adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Dwinda diangkat menjadi Ketua BKR (badan keamanan rakyat) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Dewa Nyoman Teges. Dengan diangkatnya Dwinda sebagai Ketua Distrik BKR maka tanggung jawab Dwinda semakin berat, karena harus membangkitkan semangat juang masyarakat Jembrana. Sebagai putra asli Jembrana, Dwinda mempunyai semangat tinggi untuk menyebarkan berita Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kepada masyarakat Jembrana dengan harapan semangat juang masyarakat jembrana tumbuh. 

 Selain menjadi Ketua Distrik BKR Dwinda juga diangkat menjadi Ketua BPRI (barisan pemberontak republic indonesia) Distrik Jembrana dengan Wakilnya Ide Bagus Gede Doster. Ditanggal 13 Desember diadakan serangan umum terhadap Tangsi Jepang (sekarang makam pahlawan jembrana) di Negara pada dini hari dengan tujuan merebut senjata Jepang. Namun serangan ini gagal karena kuatnya pertahanan pasukan Jepang.

 Ke esokan harinya pasukan Jepang mencari Dwinda dikediamannya, namun pasukan Jepang tidak menemukan Dwinda dikarenakan Dwinda sudah pergi bergrilya kehutan. Datangnya NICA (nederlands indies civil administration) di Jembrana Dwinda dan teman-temannya pergi ke pulau Jawa untuk meminta bantuan kepada pasukan induk di Jokjakarta, namun Dwinda hanya bertemu dengan Kapten Markadi di Banyuangi (markas ALRI di Sukowidi). Ke esokan harinya, tepatnya tanggal 04 April 1946 pasukan Kapten Markadi dan Dwinda besama-sama menuju Bali. Ditengah selat Bali rombongan pasukan bertemu dengan pasukan Gajah Merah NICA, kemudian terjadi pertempuran diselat Bali tanggal 04 Aprill 1946 yang merupakan pertempuran laut pertama dalam sejarah angkatan laut Indonesia. 

Dalam pertempuran tersebut rombongan pasukan yang dipimpin Kapten Markadi berhasil menenggelamkan pasukan Gajah Merah NICA dan rombongan tidak langsung mendarat di Bali dikarenakan Kapten Markadi takut pasukan belanda mengirimkan bantuan angkatan udaranya. Tanggal 05 April 1946 barulah rombongan pasukan mendarat terpisah dengan selamat di pantai Kelatakan, Candi Kusuma, dan Pebuahan. Rombongan pasukan bergerak menuju Peh (desa manis tutu) sebagai markas pertama yang kemudian menyusun kekuatan untuk menyerang pasukan Gajah Merah NICA di Negara pada tanggal 15 April 1946. 

Pada malam harinya pasukan bergerak kearah timur menuju Tangsi NICA (bank BPD sekarang), namun sebelum sampai di Tangsi tersebut beduk subuh sudah terdengar. Mengetahui hal ini Kapten Markadi memanggil semua perwiranya termasuk Lettu Dwinda untuk menanyakan serangan dilanjutkan atau dibatalkan. Akhirnya rencana serangan tersebut dibatalkan dengan alasan senjata dan pasukan yang kurang untuk penyerangan siang hari. Setelah rencana serangan dibatalkan pasukan kembali ke markas Peh dan merencanakan kepindahan markas ke daerah Gelar Sari yang sekarang dikenal dengan nama Lembah Merdeka. Dimarkas kedua ini pasukan menyusun kekuatan untuk melaksanakan serangan selanjutnya.

 Namun keadaan markas di Lembah Merdeka diketahui oleh mata-mata NICA, para pejuang hanya berasil menangkap dua orang mata-mata NICA. Pada tanggal 25 April 1946 pasukan NICA menyerang pertahanan pasukan pejuang di Lembah Merdeka, namun para pejuang berhasil menahan serangan tersebut. 26 April 1946 pasukan NICA kembali menyerang dengan senjata bantuan mortir dan pesawat sehingga pasukan pejuang dipukul mundur menuju pegunungan-pegunungan daerah Lembah Merdeka. Sebelum Dwinda menyusul Kapten Markadi yang berangkat menuju tabanan untuk bergabung dengan pasukan induk I Gst Ngurah Rai, Dwinda menyempatkan diri pulang kerumah untuk berpamitan kepada orang tuanya. Sesampai di rumah, Dwinda ditawarkan untuk menikah. Namun Dwinda menolak penawaran tersebut dengan alasan Dwinda tidak akan menikah sebelum Bangsa ini merdeka. 

27 April 1946 Dwinda bersama beberapa pejuang melanjutkan perjalanan untuk menyusul Kapten Markadi ke Tabanan. Sesampai diperbatasan antara Jembrana dan Tabanan Dwinda bertanya kepada para pejuang yang ikut dengannya apakah ikut melanjutkan perjuangan kedaerah Tabanan atau kembali berjuang di daerah masing-masing. Akhirnya hanya Dwinda seorang diri yang melanjutkan perjuangan ke Tabanan untuk menyusul pasukan induk I Gusti Ngurah Rai. Didaerah Penebel Dwinda berhasil bergabung dengan pasukan induk I Gusti Ngurah Rai serta bertemu juga dengan I Gusti Bagus Sugianyar (kerabat Dwinda). Dwinda juga ikut bertempur didaerah Tanah Aron pada bulan Juni 1946.

Gugurnya Lettu Dwinda
Setelah pertempuran di Tanah Aron Dwinda bersama pasukan Ciung Wanara menuju bali selatan tepatnya didaerah Tabanan untuk meyerang musuh. Pada tanggal 17 November 1946 Dwinda ditugaskan memimpin pasukan untuk menyerang Pos Polisi NICA di tabanan di bantu seorang pasukan Polisi NICA yang memihak pejuang, bernama Bung Wagimin setelah serangan tersebut berhasil pasukan mengadakan pesta dengan mengundang Arja, tetapi di dalam penari Arja tersebut ada seorang mata-mata NICA sehingga pada tanggal 19 November 1946 markas pidah ke Marga. Secara diam-diam ternyata pasukan NICA mengetahui kepindahan markas pejuang ke daerah marga. Dengan di ketahuinya markas pejuang di Marga, 20 November 1946 belanda menyerang dari semua arah dan terjadilah pertempuran Margarana. Ketika pertempuran terjadi senjata mortar milik pejuang macet tidk bisa di gunakan. Ketika di injak mortar tersebut meledak dengan sendirinya sehingga Ahli senjata dan beberapa pejuang gugur. Dalam pertempuran tersebut kedua belah pihak kehabisan amunisi sehingga terjadilah perang sangkur.

 Ditengah-tengah perang sangkur datanglah bantuan pesawat Belanda yang dikirim dari Jembrana. Setelah pesawat itu membantu penyerangan belanda hampir dari keseluruhan pejuang gugur. Pada waktu itu keadaan tubuh Lettu Dwinda sangat parah akibat serangan bantuan pesawat belanda, dengan kondisi seperti itu Lettu Dwinda berusaha mencari kerabatnya Bagus Sugianyar yang juga ikut dalam pertempuran tersebut dengan harapan kalau mereka gugur jenazah mereka berdekatan agar jenazah lebih gampang dikenali. 

Tanggal 20 November 1946 Lettu Dwinda akhirnya Gugur disamping kerabatnya Bagus Sugianyar dalam Pertempuran Margarana. Jenazah Lettu Dwinda dimakamkan di daerah Baha Tabanan, pada tanggal 22 November 1946 barulah keluarga Lettu Dwinda menerima kabar bahwa Lettu Dwinda telah gugur. Dua Tahun setelah gugurnya Lettu Dwinda, jenazah Lettu Dwinda barulah dipindahkan ke makam pahlawan kusuma mandala Jembrana.